Tulisan-hang fm

Maneger Nasution: HAM Tak Boleh Mengudeta Hak Asasi Tuhan

"Maka kebebasan harus digantungkan pada ketidakberdayaan kita, sehingga kita tetap bergantung kepada Allah.”

02 Jul 2016 0 comment
(0 votes)
 
Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution. Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution.

Hidayatullah.com– Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM), Maneger Nasution, mengatakan, kebebasan yang bertanggung jawab dalam dokumen HAM internasional masih bias.

Demikian disampaikannya pada Seminar Indonesia Cerdas Bermoral gelaran Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) di Aula FEB Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Maneger mengatakan, HAM ala Barat adalah HAM yang antroposentris (bersudut pandang manusia). Sementara, tambahnya, HAM Islam adalah hak asasi yang teosentris (bersudut pandang Tuhan).

“Manusia itu penting, tapi Tuhan lebih penting. Sehingga HAM tidak boleh mengudeta hak asasi Tuhan,” tegasnya sebagaimana rilis FSLDK kepada hidayatullah.com.

Perlu Hijrah Pemikiran

Pembicara lainnya, Ketua Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islam, Dr. Bagus Riyono menganggap, perlu adanya hijrah pemikiran untuk menerima beberapa hal fundamental pada setiap manusia.

Hal itu terkait para pendukung gerakan lesbian, homoseksual, biseksual, dan transgender (LGBT) yang selalu berlindung dan bersuara atas nama HAM.

Bagus menjelaskan, tiga hal yang menjadi pedoman dasar hidup manusia yang harus disadari. Yaitu kebebasan (freedom), ketidakpastian (uncertainty), dan ketidakberdayaan (vulnerability).

“Maka kebebasan harus digantungkan pada ketidakberdayaan kita, sehingga kita tetap bergantung kepada Allah dan (menjadi) lebih bertanggung jawab.” ujarnya.

Pembicara lainnya, dr. Djoko Soewito, Sp. Kj, mengatakan, untuk melindungi seseorang dari pengaruh LGBT, sedari kecil ia harus dididik. Yaitu dengan mengenalkan soal gendernya beserta kewajiban dan hak-haknya.

Dalam hal itu, kata Ketua KSM Psikiatri RSUD dr. Moewardi Surakarta ini, terdapat peran orangtua untuk memahamkan identitas anaknya.

”Hendaknya dalam proses pendidikan dan pengembangan pelestarian manusia, seorang anak harus dididik bahwa ia adalah laki-laki, (atau) ia adalah perempuan. Sejak sebelum menikah,” tandas Djoko.*

Rep: Yahya G Nasrullah

Editor:

Last modified on Thursday, 07 July 2016 18:59

Email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

HANGFM Radio Dakwah Islam  Profesional dan Terdepan di Batam

Profile Hang FM

Connect with HANG FM

Get Free Breaking News Alerts!

  • Breaking News Alerts
  • Dakwah Alerts

Contact us

Batam Center Mall Lt. Dasar, First City Komplek Blok 1 No.A1-61, Batam, Kepulauan Riau
T: +62-778-469106
F: +62-778-469106